Nama : Muhammad Rizki
Kelas : X.5
PERJALANANKU
Disuatu hari , tepatnya 28 Desember 2009 kami melakukan Study Tour yang diadakan oleh SMP-SMA LTI IGM Palembang . Sungguh perasaanku berdebar-debar karena akan melakukan perjalanan selama 10 hari bersama teman-teman dan guru ke Jakarta-Malang-Bali-Yogyakarta. Sebelum berangkat, kami melakukan doa bersama dan pengarahan pada saat study tour nanti .“ah , biarkan itu menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan”,kataku.
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, aku dan teman-temanku ditempatkan pada bus nomor 3 dan disertai dengan bus nomor 1,2,dan 4. Inilah perjalanan pertamaku bersama teman-teman , tanpa orang tua. Tetapi, teman-temanku merasa senang dengan keadaan ini. “Jangan terlalu dipikirkan ki, cuman 10 hari aja kok haha”, kata haekal salah seorang sahabatku. Yah, aku hanya bisa tertawa melihat dia berkata seperti itu. Tak terasa waktu cepat berjalan, panasnya matahari menyertai perjalanan kami menuju Jakarta pada saat itu. Tetapi itu tidak menghalang kami untuk tetap melakukan perjalanan, didalam bis yang kami naiki kami bisa bernyanyi dan bercanda. Tetapi, ada juga yang tidur pulas dan melakukan kegiatannya sendiri.
Perjalanan dari Palembang menuju Jakarta memerlukan waktu sehari. Tengah malam yang dingin memaksa kami untuk bangun dan berpindah tempat dari bis ke kapal yang besar untuk menyebrangi Bakauheni-Merak. Aku dan teman-temanku berjalan seperti mayat hidup, tak tau arah mana yang harus diikuti karena ngantuk. “Jangan tidur mulu, ayo bangun. Kita pindah dulu sebentar, nanti di kapal tidur lagi”, kata seorang guruku. Yah,akhirnya kami berpindah tempat dengan terpaksa karena memang aturannya begitu. Dan satu hal yang harus diingat, ternyata mabuk laut itu memang ada. Aku merasakannya setelah kapal itu berjalan. Mual dan pusing, itu yang kurasakan selama 2 jam perjalanan. Ingin rasanya tidur seperti teman yang lainnya , tetapi tidak bisa karena aku merasakan mual dan pusing. Akhirnya, aku diberi obat untuk menghilangkan rasa mual dan pusing itu oleh guruku dan aku segera tidur untuk beberapa menit.
“Jakarta, I’m coming”, kata teman-temanku. Itulah ekspresi mereka saat kami tiba di kota Jakarta. Aku hanya diam dan mendengarkan musik yang dikeluarkan oleh mp3 punyaku. Dufan, itulah incaran kami di Jakarta. Hanya dufan yang bisa menghilangkan rasa lelah dan letih kami selama seharian penuh. Akhirnya, dengan perjalanan sekitar satu jam kami sampai di Ancol, tempat dimana dufan berada. Tetapi, sebelum kami bermain kami dianjurkan untuk makan pagi terlebih dahulu.
Dan waktunya pun tiba, kami bermain sesuka hati kami dengan dibimbing guru tentunya. Banyak permainan yang menjadi keunggulan dari dufan ini, seperti halilintar, Niagara-gara, arum jeram, dan lain-lain. Dan permainan pertama yang aku pilih bersama haekal yaitu halilintar. “Panjang banget kal antriannya, mau nunggu kayak gini ?”,tanyaku. “ah gpp ki, namanya juga liburan. Kalau mau sepi di kuburan sana”, canda haekal. Akhirnya kami mengantri sekitar 30menit hanya untuk bermain halilintar. Memang ini pengalaman pertamaku naik halilintar, tetapi itulah yang membuat aku penasaran untuk menaiki wahana yang satu ini. Akhirnya giliranku dan haekal, aku merasa sedikit deg-degan untuk menaiki ini karena menurutku ini sungguh menegangkan. “gpp ki, teriak aja. Jangan tegang, haha”, kata haekal menenangkanku. Aku hanya bisa berkata iya dan tertawa sedikit. Pertama aku merasakan biasa saja , tetapi saat halilintar itu memaksa untuk terjun kebawah dengan kecepatan yang sangat tinggi, itu membuat badanku terbentur dengan tempat duduk yang menahan badanku untuk tidak jatuh. Teriak, tetapi itu tidak kulakukan karena badanku terasa sakit. “kenapa ki?”,tanya haekal, “gpp kal,cuman sakit sedikit karena terbentur tadi”,jawabku.
Suasana panik pun dirasakan salah seorang sahabatku, Reza. Dia kehilangan dompetnya disaat dia bermain. “coba ingat-ingat dulu”, kata teman-temanku. “sudah,tapi gak ada”,kata reza dengan muka pucat. Dia sudah berkeliling mencari tempat-tempat yang dia kunjungi sebelumnya , tetapi tetap saja tidak ketemu dompetnya. Akhirnya, dia mengikhlaskan dompetnya. Kami tidak tega melihat mukanya yang pucat dan berkeringat, akhirnya kami menghibur dia dengan permainan yang ada disana. Dia tertawa , itulah tujuan kami. Akhirnya sore pun tiba, kami harus melanjutkan perjalanan kami menuju Bali dimana kota itu menjadi tujuan dari perjalanan kami.
Perjalanan Jakarta-Bali memerlukan waktu 2 hari. “lamanya”,pikirku. Tapi itu tidak membuatku merasa bosan, karena ada teman-teman dan guruku yang menemaniku di perjalanan nanti.
Sebelum ke Bali, ternyata kami berhenti sebentar di kota Malang. Ternyata, disana kami diberikan kesempatan untuk menikmati indahnya Jawa Timur Park (Jatim Park) . Jatim Park sama dengan Dufan , tapi mungkin perbedaannya di Jatim Park tidak terlalu ramai dan mengutamakan permainan . karena di sini, banyak sekali permainan yang bisa kita temukan. Tetapi kami hanya diberi waktu 3 jam untuk menikmati itu, “waktu yang cukup singkat untuk bermain”, pikirku lagi. Aku dan teman-temanku memasuki permainan Rumah Berhantu, dimana rumah itu dipenuhi dengan hal hal misteri seperti hantu, bunyi-bunyian yang menyeramkan. Permainan itu ternyata banyak digemari oleh orang, mungkin karena penasaran kali ya. Sebenarnya tidak cukup banyak permainan yang kami datangi dikarenakan keterbatasan waktu yang diberikan.
Akhirnya, perjalanan ke Bali kami lanjutkan pada malam hari. Ternyata, penyebrangan Jawa-Bali tidak memerlukan waktu cukup lama. Akhirnya kami tiba di Bali pada pagi hari, dan diawali dengan sarapan pagi sebelum melakukan aktivitas. Kejadian itu pun datang lagi, terdengar bahwa terjadi kehilangan lagi pada bus lain. “kasihan ya”,kata seorang temanku. ”Bagaimana lagi, itulah yang terjadi”, kataku. Akhirnya kami pun diajak keliling Bali, dari pantainya yang indah sampai ke toko souvenir yang ada di Bali. Kalau memanggil seorang laki-laki di Bali, harus memanggilnya dengan kata “Bli”. Kami mempunyai tourguide yang namanya Bli Sore, haha memang lucu nama orang Bali. Dan kata Bli Sore , ternyata orang Bali susah untuk menyebut kata “Z”. “emang susah ya Bli ?”, tanyaku. Bli Sore hanya bisa tertawa mendengar pertanyaanku. Perjalananku di Bali hanya 2 hari, memang sebentar . tapi banyak kenangan yang tak terlupakan di sana , I love Bali !
Keesokan harinya, kami diharuskan meninggalkan Bali karena keterbatasan waktu. Menuju Yogyakarta, pikirku. Bagaimana disana ya? Dan ternyata, permainan dimulai dari situ. Aku dan haekal merencanakan sesuatu untuk mempermainkan adik kelas dengan cara menyamar sebagai orang lain. Yah awalnya berjalan dengan lancar, tetapi disitulah akhirnya kebohongan kami terbongkar. Saat di kapal, temanku ikhsan meminjam handphoneku sebentar. Ternyata, si adik kelas pun menelpon ke handphoneku. Dengan lugunya si ikhsan berkata “ki, ada telpon ni dari nov-kodok” , yah aku dan haekal hanya bisa malu dengan si adik kelas. Karena , ternyata si adik kelas berada tepat di belakang kami. Dia hanya bisa tertawa bersama teman-temannya , sedangkan kami ? hanya bisa menahan malu dan pura-pura tidak mengetahui semua hal yang terjadi. Semua itu karena si ikhsan , haha .
Yogyakarta, kota dimana ketradisionalan tetap masih ada, masih utuh dan tidak berubah sedikitpun. “kal, kok Yogyakarta depannya memakai D.I. ya ? itu Daerah Istimewa kan?”,tanyaku ke haekal. “iya ki, soalnya Yogyakarta ni daerahnya masih tetap ada ketradisionalnya dan natural. Bukan seperti kota-kota lain, sudah dicampur dengan kemodernan sekarang”,jawab haekal. Dan satu lagi, ternyata makanan di Yogyakarta rasanya manis semua, tidak ada yang rasa pedas seperti halnya Sumatera. Aku heran , ternyata Palembang sama Yogyakarta sangat berbeda. Di Yogyakarta, polusi diutamakan. Tidak terlalu banyak kendaraan yang digunakan seperti halnya motor dan mobil , tetapi kebanyakan delman dan becak yang digunakan disana, Sungguh menakjubkan. Dan di kota Yogyakarta lah, aku bisa mengerti bagaimana rasanya hidup tanpa orang tua. Kurang tidur, itu biasa. Tetapi kekurangan uang, itu tidak biasa. Ayah tidak mau mengirimkan uang lagi, karena menurutnya uang saku yang diberikan kepadaku waktu itu sudah sangat cukup bagiku. “Biarlah, aku harus hemat untuk kali ini”,pikirku. Barang-barang di Yogyakarta sangat membuatku ingin membelinya, tetapi yah karena masalah tadi jadi kuurungkan niatku tersebut.
Akhirnya, hari terakhirku di Yogyakarta. Sesungguhnya aku tidak ingin cepat-cepat meninggalkan Yogyakarta, karena kota tersebut memang sangat indah dan natural. Tetapi yah itulah aturan dari perjalanan kami, tepat malam hari kami meninggalkan Yogyakarta. Dan keesokan harinya, kami semua sampai di kota Palembang dengan selamat. Perjalanan kali ini memang sungguh melelahkan, tetapi dengan adanya teman-teman semua itu tidak ada artinya.
Cerpen tugas sekolah :D
Langganan:
Posting Komentar (Atom)










Tidak ada komentar:
Posting Komentar